SABURAI CUP HIPMALA Yogyakarta

SABURAI CUP  2013

Sebuah bentuk kepeduliaan guna menjalin silaturahmi dan senantiasa membangun komunikasi antar sesama pemuda-pemudi Nusantara, Keluarga Besar Himpunan Pelajar Mahasiswa Lampung (HIPMALA) Yogyakarta akan kembalikan mengadakan Event tahunan  “SABURAI CUP 2013”  dimana pada saburai cup tahun ini akan mengadakan 4 cabang yaitu Futsal, Sepak bola, Volly Ball, dan Badminton yang akan diselenggarakan pada bulan Maret 2013, peserta disini meliputi IKPM Nusantra dan IKMP sekomisariat se lampung.

Melalui “Saburai CUP ” tahun ini, HIPMALA mencoba untuk meningkatkan komunikasi yang baik agar tetap terjalin.  Karena melaui olahraga dapat dijadikan media yang tepat dalam menjalin hubungan yang baik. Kegiatan ini bukan sebagai media persaingan yang tidak sehat tetapi sebagai media yang sangat positif guna mendukung dan menjujung jiwa sprotivitas sebagai modal dasar dalam meraih prestasi.

Tari Persembahan PAHAR AGUNG

PAHAR AGUNG

Pahar merupakan alat sejenis nampan yang digunakan oleh masyarakat melayu dan masyarakat adat pesisir Lampung khususnya masayarakat adat Skala Brak untuk meletakkan hidangan. Dalam adat biasanya pahar dipergunakan pada tradisi “ngantak pahar” dan sebagai Lampit pesirehan untuk mengiringi perjalanan Sai Batin / Sutan. “Ngantak Pahar ” yang masih ada hingga sekarang biasanya dilakukan ketika hari besar Islam. Tarian persembahan ini terilhami dari keagungan adat budaya, kemudian tarian ini juga digunakan sebagai tanda penghormatan dan menjalin ikatan silaturahmi. 

marga liwa sebagai bagian dari tanah bumi kerajaan adat Paksi Pak Sekala Berak akan tetap dan senantiasa  menjunjung adat budaya diantaranya tradisi pahar, sebagai warisan leluhur. Menjunjung serta menghormati adat budaya sai Batin sebagaimana nilai-nilai dalam sebuah pahar yang dijunjujng atau dicuncun diatas kepala. (novan Saliwa)

DSC_0079
 DSC_0087
DSC_0086

 

Tarian sansayan Sekeghumong

( Ratu Sekeghumong : Pimpinan suku Tumi seorang wanita yang bernama Puteri Sekar Mong. Setelah hal ini diketahui oleh empat orang Empu lalu mereka berunding dan mereka berunding untuk menaklukan suku Tumi serta meng-islamkan mereka. ( Marwansyah Warganegara
(TMII, Jakarta-1994) )


(dalam Gelar Korasi | Kolaborasi Ajang Kreasi
4 Juni 2011 | Stage Tedjokusumo Universitas Negeri Yogyakarta.
sebagai uji koreo tiga ( tugas akhir ) jurusan seni tari )

Nujum Gerinung di tanah kerajaan Skala Brak
Percintaan berbeda kasta adalah tabu
Pangeran dan rakyat jelata tak akan bersatu
Darah Sai Batin harus selalu Biru
Tak akan bercampur darah Jelata Seperdu
:Inilah titah Pun Beliau Ratu
Bertaruh nyawa risalah cinta tanpa restu
Kemurkaan “Sekeghumong” Saibatin Ratu
( Saliwa )

[diambil dari novel Perempuan Penunggang Harimau]
Karya M. Harya Ramdhoni
Penata Tari: Ayu Erindiasti dan Dina Febriani
Penari: Reni | Aline | Novan saliwa | Dion | Anugrah | sadam
Pemusik: Arsyad | suhendri | Andi | Kiki | anok | riski | dery dan sendy

Sastra Lampung

Jenis sastra lisan Lampung

A. Effendi Sanusi (1996) membagi lima jenis sastra tradisi lisan Lampung: peribahasa , teka-teki , mantera , puisi , dan cerita rakyat.

1. Sesikun/sekiman (peribahasa)

Sesikun/sekiman adalah bahasa yang memiliki arti kiasan atau semua berbahasa kias. Fungsinya sebagai alat pemberi nasihat, motivasi, sindiran, celaaan, sanjungan, perbandingan atau pemanis dalam bahasa.

2. Seganing/teteduhan (teka-teki)

Seganing/teteduhan adalah soal yang dikemukakan secara samar-samar, biasanya untuk permainan atau untuk pengasah pikiran.

3. Memmang (mantra)

Memmang adalah perkataan atau ucapan yang dapat mendatangkan daya gaib: dapat menyembuhkan, dapat mendatangkan celaka, dan sebagainya.

4. Warahan (cerita rakyat)

Warahan adalah suatu cerita yang pada dasarnya disampaikan secara lisan; bisa berbentuk epos, sage, fabel, legenda, mite maupun semata-mata fiksi.

5. Puisi

Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan seseorang secara imajinatif dan disusun dengan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasikan struktur fisik dan struktur batin.

Bentuk-bentuk puisi lisan Lampung

Berdasarkan fungsinya, ada lima macam puisi dalam khasanah sastra tradisi lisan Lampung:

A. Paradinei/paghadini

Paradinei/paghadini adalah puisi tradisi Lampung yang biasa digunakan dalam upacara penyambutan tamu pada saat berlangsungnya perta pernikahan secara adat. Paradinei/paghadini diucapkan jurubicara masing-masing pihak, baik pihak yang datang maupun yang didatangi. Secara umum, isi paradinei/paghadini berupa tanya jawab tentang maksud atau tujuan kedatangan.

B. Pepaccur/pepaccogh/wawancan

Pepaccur/pepaccogh/wawancan adalah puisi tradisi Lampung yang berisi nasihat atau pesan-pesan setelah pemberian adok (gelar adat) kepada bujang-gadis sebagai penghormatan/tanda telah berumah tangga dalam pesta pernikahan. Pemberian adok (gelar adat) dilakukan dalam upacara adat yang dikenal dengan istilah butetah atau istilah lainnnya, ngamai dan nginai adek, ngamai ghik ngini adok, dan kabaghan adok atau nguwaghko adok.

C. Pantun/Segata/Adi-Adi

Pantun/segata/adi-adi adalah salah satu jenis puisi tradisi Lampung yang lazim di kalangan etnik lampung digunakan dalam acara-acara yang sifatnya bersukaria, misalnya pengisi acara muda mudi nyambai, miyah damagh, kedayek.

D. Bebandung

Bubandung adalah puisi tradisi Lampung yang berisi pertuah-petuah atau ajaran yang berkenaan dengan agama Islam.

E. Ringget/Pisaan/Dadi/Highing-Highing/Wayak/Ngehaha do/Hahiwang

Ringget/pisaan/dadi/highing-highing/weyak/ngehaha do/hahiwang adalah puisi tradisi Lampung yang lazim digunakan sebagai pengantar acara adat, pelengkap acara pelepasan pengantin wanita ke tempat pengantin pria, pelengkap acara tarian adat (cangget), pelengkap acara muda-mudi (nyambai, miyah damagh, atau kedayek), senandung saat meninabobokan anak, dan pengisi waktu bersantai.

Tari Cangget

1. Pengantar

Lampung adalah sebuah provinsi yang letaknya paling selatan di Pulau Sumatera. Di dalam provinsi ini penduduknya terbagi dalam beberapa suku bangsa yaitu: Suku bangsa Lampung, Jawa, Sunda dan Bali (www.wikipedia.org). Pada Sukubangsa Lampung sendiri terbagi menjadi dua bagian yaitu Lampung Pepadun dan lampung Sebatin. Lampung Sebatin adalah sebutan bagi orang Lampung yang berada di sepanjang pesisir pantai selatan Lampung. Sedangkan, Lampung Pepadun1 adalah sebutan bagi orang Lampung yang berasal dari Sekala Brak di punggung Bukit Barisan (sebelah barat Lampung Utara) dan menyebar ke utara, timur dan tengah provinsi ini. Sebagaimana masyarakat lainnya, mereka juga mereka menumbuh-kembangkan kesenian yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, tetapi jatidirinya. Dan, salah satu kesenian yang ditumbuhkembangkan oleh masyarakat Lampung, khususnya Orang Pepadun, adalah jenis seni tari yang disebut “tari cangget”.

Konon, sebelum tahun 1942 atau sebelum kedatangan bangsa Jepang ke Indonesia, tari cangget selalu ditampilkan pada setiap upacara yang berhubungan dengan gawi adat, seperti: upacara mendirikan rumah, panen raya, dan mengantar orang yang akan pergi menunaikan ibadah haji. Pada saat itu orang-orang akan berkumpul, baik tua, muda, laki-laki maupun perempuan dengan tujuan selain untuk mengikuti upacara, juga berkenalan dengan sesamanya. Jadi, pada waktu itu tari cangget dimainkan oleh para pemuda dan pemudi pada suatu desa atau kampung dan bukan oleh penari-penari khusus yang memang menggeluti seni tari tersebut.

Waktu itu para orangtua biasanya memperhatikan dan menilai gerak-gerik mereka dalam membawakan tariannya. Kegiatan seperti itu oleh orang Lampung disebut dengan nindai. Tujuannya tidak hanya sekedar melihat gerak-gerik pemuda atau pemudi ketika sedang menarikan tari cangget, melainkan juga untuk melihat kehalusan budi, ketangkasan dan keindahan ketika mereka berdandan dan mengenakan pakaian adat Lampung. Bagi para pemuda dan atau pemudi itu sendiri kesempatan tersebut dapat dijadikan sebagai arena pencarian jodoh. Dan, jika ada yang saling tertarik dan orang tuanya setuju, maka mereka meneruskan ke jenjang perkawinan.

2. Macam-macam Tari Cangget dan Gerakannya

Tarian cangget yang menjadi ciri khas orang Lampung ini sebenarnya terdiri dari beberapa macam, yaitu:

Cengget Nyambuk Temui, adalah tarian yang dibawakan oleh para pemuda dan pemudi dalam upacara menyambut tamu agung yang berkunjung ke daerahnya.

Cangget Bakha, adalah tarian yang dimainkan oleh pemuda dan pemudi pada saat bulat purnama atau setelah selesai panen (pada saat upacara panen raya).

Cangget Penganggik, adalah tarian yang dimainkan oleh pemuda dan pemudi saat mereka menerima anggota baru. Yang dimaksud sebagai anggota baru adalah pada pemuda dan atau pemudi yang telah berubah statusnya dari kanak-kanak menjadi dewasa. Perubahan status ini terjadi setelah mereka melalukan upacara busepei (kikir gigi).

Cangget Pilangan, adalah tarian yang dimainkan oleh para pemuda dan pemudi pada saat mereka melepas salah seorang anggotanya yang akan menikah dan pergi ke luar dari desa, mengikuti isteri atau suaminya.

Cangget Agung adalah tarian yang dimainkan oleh para pemuda dan pemudi pada saat ada upacara adat pengangkatan seseorang menjadi Kepala Adat (Cacak Pepadun). Pada saat upacara pengangkatan ini, apabila Si Kepala Adat mempunyai seorang anak gadis, maka gadis tersebut akan diikutsertakan dalam tarian cangget agung dan setelah itu ia pun akan dianugerahi gelar Inten, Pujian, Indoman atau Dalom Batin.

Walau tarian cangget terdiri dari beberapa macam, namun tarian ini pada dasarnya mempunyai gerakan-gerakan yang relatif sama, yaitu: (1) gerak sembah (sebagai pengungkapan rasa hormat); (2) gerakan knui melayang (lambang keagungan); (3) gerak igel (lambang keperkasaan); (4) gerak ngetir (lambang keteguhan dan kesucian hati; (5) gerak rebah pohon (lambang kelembutan hati); (6) gerak jajak/pincak (lambang kesiagaan dalam menghadapi mara bahaya); dan (7) gerak knui tabang (lambang rasa percaya diri).

3. Peralatan, Busana, dan Perkembangannya

Peralatan musik yang digunakan untuk mengiringi tari Canget diantaranya adalah: (1) canang lunik 8–12 buah; (2) bende sebuah; (3) gujeh sebuah; (4) gong 2 buah; (5) gendang sebuah; dan (6) pepetuk 2 buah.

Busana yang dikenakan oleh penari perempuan adalah: (1) kain tapis; (2) kebaya panjang warna putih; (3) siger; (4) gelang burung; (5) gelang ruwi; (6) kalung papan jajar; (7) buah jarum; (8) bulu seratai; (9) tanggai; (10) peneken; (11) anting-anting; dan (12) kaos kaki warna putih. Sedangkan busana dan perlengkapan pada penari laki-laki adalah: (1) kain tipis setengah tiang; (2) bulu seratai; (3) ikat pandan; (4) jubah; dan (5) baju sebelah.

Selain peralatan musik dan busana bagi penarinya, tarian ini juga menggunakan perlengkapan-perlengkapan pendukung lainnya, yaitu: (1) jepana (tandu usungan) yang dipakai pada saat mengantar dan menjemput tamu agung, sesepuh adat atau pun puteri kepala adat dan kutamara; (2) tombak dan keris, dipakai pada saat tari igel; (3) talam emas, dipakai untuk landasan menurunkan serta menaikkan para sesepuh atau tetua adat dari Jepana memasuki Sesat Agung ataupun sebaliknya; (4) Payung adat yang warna putih (lambang kesucian) dan warna kuning (lambang keagungan).

Adapun lagu-lagu yang sering dinyanyikan untuk mengiringi tarian Cangget Agung adalah (1) tabuh mapak/nyabuk temui; (2) tabuh tari (tarey); (3) serliah adak; (4) mikhul bekekes; (5) gupek; dan (6) hujan turun.

Saat ini, seiring dengan perkembangan zaman, penyelenggaraan tarian ini semakin berkurang. Tarian cangget tidak lagi ditarikan oleh para pamuda dan pemudi untuk saling berkenalan, melainkan telah menjadi suatu tarian khusus yang dimainkan oleh penari-penari tertentu (tidak sembarang orang) dan pada saat-saat tertentu saja (upacara adat saja).

4. Nilai Budaya

Cangget sebagai tarian khas orang Lampung Pepadun, jika dicermati, tidak hanya mengandung nilai estetika (keindahan), sebagaimana yang tercermin dalam gerakan-gerakan tubuh para penarinya. Akan tetapi, juga nilai kerukunan dan kesyukuran.

Nilai kerukunan tercermin dalam fungsi tari tersebut yang diantaranya adalah sebagai ajang berkumpul dan berkenalan baik bagi orang tua, kaum muda, laki-laki maupun perempuan. Dengan berkumpul dan saling berkenalan antar warga dalam suatu kampung atau desa untuk merayakan suatu upacara adat, maka akan terjalin silaturahim antar sesama dan akhirnya akan menciptakan suatu kerukunan di dalam kampung atau desa tersebut.

Sedangkan nilai kesyukuran juga tercermin dalam tujuan diselenggarakannya tarian tersebut, yang merupakan salah satu unsur dalam penyelenggaraan suatu upacara adat sebagai perwujudan rasa syukur kepada Sang Pencipta (Allah SWT).

Sumber:

Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1994. Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

www.wikipedia.org diakses 30 Desember 2007

www.indosiar.com diakses 30 Desember 2007

http://aligufron.multiply.com/journal/item/271

1 Pepadun dalam bahasa Lampung berasal dari kata “padu” yang berarti “berunding”. Jadi, pepadun dapat diartikan sebagai suatu perundingan atau musyawarah dalam suasana kekeluargaan untuk mencapai suatu kesatuan yang utuh.

Gambar

Aksi Do’a Damai Untuk Lampung

Gambar

Apa yang terjadi Desa Agom dan Balinuraga Kecamatan way panji, Lampung Selatan sekarang ini sungguh membuat risau banyak pihak, termasuk kami. Terlepas dari semua penyebab kerusuhan tersebut, segala bentuk kekerasan sama sekali tidak bisa dibenarkan. Kerisauan ini kami sikapi dengan melakukan diskusi dengan seluruh anggota. Tepatnya pada hari rabu malam (30/10) diAsrama Mahasiswa Lampung Jl. Pakuningratan No. 7 Cokrodiningratan, Jetis, Yogyakarta

Banyak yang kami ungkap dari berbagai sumber tentang fakta-fakta dilapangan pada diskusi tersebut secara netral. Semua kami dialogkan dengan bijaksana, proaktif dan solutif. Peserta diskusi ini berasal dari beberapa etnis yang semua ada dilampung. Semua sikap mengkambinghitamkan terkalahkan oleh kecintaan kami terhadap kedamaian. Kami semua cinta damai, yang akan kami wujudkan dengan aksi konkret bertajuk “ Do’a Damai Untuk Lampung”

Aksi ini akan kami adakan tepatnya pada hari Kamis malam (1/11), yang diprediksi akan diikuti oleh lebih dari 200 massa dari berbagai kalangan. Aksi “ Do’a Damai Untuk Lampung” ini adalah sebuah acara rangkaian dari beberapa sub acara yang terdiri dari: Kumpul diasrama mahasiswa lampung (AML) pukul 17.00 s/d 18.00. @aml-yogyakarta beralamat di jalan Paukuningratan No.7 cokrodiningratan, jetis, yogyakarta. Diawali dengan Long March menuju perempatan lampu merah Nol Kilometer malioboro, depan kantor pos besar

Sesampainya dilokasi tujuan, semua peserta akan disamakan persepsinya untuk sama-sama menyerukan perdamaian lewat prolog yang akan disampaikan oleh panitia. Seluruh peserta diberikan butiran-butiran cinta akan kedamaian lewat “Puisi Perdamaian”. Masuk keacara inti, yakni orasi perdamaian oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X (Raja Kesultanan Ngayogyakarta). Setelah mendengarkan pesan damai oleh Ngarso Dalem, dilanjutkan dengan pembubuhan tandatangan sebagai symbol komitmen untuk selalu menjaga perdamaian, dengan diikuti oleh seluruh peserta aksi

Api lilin yang diisyaratkan sebagai api perdamaian dihidupkan oleh Ngarso Dalem untuk diteruskan kelilin-lilin seluruh peserta yang sudah melingkar bershaf secara berurutan. Diakhiri dengan bersama-sama menundukkan kepala, menyerahkan diri kepada Yang Kuasa dan Berdo’a untuk kedamaian Lampung. Harpan kami semua pelajar dan mahasiswa dapat ikut berpartisipasi pada aksi mulia ini. Kami akan sangat senang apabila pelajar dan mahasiswa dari luar lampung juga bisa ikut berpartisipasi

HIPMALA (Himpunan Pelajar Mahasiswa Lampung)-Yogyakarta hanya sebagai fasilitator, peserta adalah seluruh saudara-saudara semua yang perduli dengan kedamaian di Lampung. Semoga rangkaian demi rangkaian aksi ini berjalan lancar dan semua pihak dapat mendukung. Dan yang pasti buntut dari ini semua adalah terwujudnya “Lampung Damai”.

-Salam Damai!-

By hipmalaku Posted in Berita

Sedikit tentang HIPMALA

Sedikit tentang HIPMALA

Himpunan Pelajar Mahasaiswa Lampung  Yogyakarta disingkat dengan HIPMALA adalah organisasi yang bersifat social kekeluargaan dan merupakan wadah untuk mengembangkan bakat serta meningkatkan kreatifitas bagi Pelajar dan Mahasiswa Lampung yang sedang menuntut ilmu di Yogyakarta, HIPMALA didirikan kurang lebih pada tahun 1952 an.

Dengan mengkedapankan rasa persaudaraan dan kekeluargaan  yang tinggi jelas akan menjadikan HIPMALA menjadi organisasi kesederhanaan yang solid, yang mana solidaritas diharmonisasi oleh profesionalitas adlah “ ruh” dari sebuah organisasi untuk trus eksist dan menciptakan organisasi yang terus siap maju menghadapi pengaruh era globalisasi yang berimplikasi pada segala aspek kehidupan social dan budaya dan watak para generasi muda yang menjadi acuh tak acuh dan individualism yang sangat bertentangan dengan jiwa HIPMALA yang lebih mengedepankan rasa kekeluargaan. Dengan bermodal kekeluargaan pada roda suatu organisasi kedaerahan seperti HIPMALA diharapkan dapat mempersatukan para Pemuda Lampung yang yang ada di tyogyakarta sehingga dapat memajukan Daerah Lampung khususnya dan Indonesia Umumnya.

Untuk Apa HIPMALA di Bentuk???

  1. Mempersatukan Pelajar dan Mahasiswa berasal dari Lampung di Daerah Istimewa Yogyakarta.
  2. Meningkatkan penegetahuan dan pendidikan, serta penalaran anggota agar menjadi manusia akademis yang bertaqwa dan berguna bagi Nusa Bangsa dalam mencapai masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoi.
  3. Mengembangkan Kebudayaan Lampung dalam rangka membina Kebudayaan Nasional.
  4. Mengembangkan minat, bakat, seni dan olahraga sebagai  Pelajar mahasiswa yang kreatif dan inovatif.
  5. Menyalurkan dan mengarahkan sumberdaya  Manusia yang ada pada anggota kerah kegiatan yang nyata untuk kebaikan HIPMALA Yogyakarta serta masyarakat pada umumnya.
  6. Membantu tercipatnya perubahan-perubahan social serta memberikan kontribusi pemikiran bagi pembangunan Lampung pada khususnya serta masyarakat pada umumnya.
  7. Mempererat hubungan dan kerja sama dengan organisai –organisasi lain yang tidak bertentangan dengan dengan ketentuan AD/ART dan undang-undangan Dasar 1945.